Minggu, 30 Mei 2010

Doa yang Ditemukan pada Seorang Serdadu yang Meninggal

Saya memohon kesehatan agar saya bisa mencapai prestasi,
Tuhan memberiku kelemahan agar saya menurut.
Saya memohon kekayaan agar saya bisa bahagia;
Tuhan memberi saya kemiskinan agar saya bijaksana.
Saya memohon kekuatan untuk melakukan hal-hal yang besar;
Tuhan memberi saya kerentaan agar saya bisa melakukan hal-hal yang lebih baik.
Saya memohon kekuasaan agar saya mendapat pujian orang;
Tuhan memberi saya kelemahan agar saya bisa merasakan kebutuhan akan Tuhan.
Saya memohon segala hal agar saya bisa menikmati hidup,
Tuhan memberi saya kehidupan agar saya bisa menikmati segala hal.
Saya tidak menerima apapun yang saya pohonkan,
tapi lebih dari yang saya harapkan.
Doa-doa saya dijawab,
saya adalah orang yang paling terberkati

Kisah 100$

Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara unik. Sambil memegang uang pecahan US $ 100, ia bertanya kepada hadirin, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat. "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini." Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat. Lalu bertanya lagi, "Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.
"Baiklah," jawabnya, "apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi. "Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.
"Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berniat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai 100 dolar."
Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apa pun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda.
Jangan pernah lupa - Anda spesial.

Sabtu, 29 Mei 2010

Berapa sich harga 30 minutes???

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama. "Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?" "Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?" "Ah, enggak. Pengen tahu aja. "Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?" Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya. "Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya. "Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."

"Tapi, Ayah..." Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih." "Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."

"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut. "Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sanga berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata.

Bukan Sekedar Imajinasi!!!

Entah apa yang akan terjadi pada negeri ini?Imajinasi saya menuntun pada situasi-situasi yang mengerikan;Sebuah negeri yang penduduknya robot.Robot yang dikendalikan sesuka hati oleh manusia-manusia di tempat lain.Manusia tersebut adalah ongkang-ongkang kaki sambil melihat monitor,sambil terbahak,dan tertimbun kemewahan.Lalu mereka menobatkan diri jadi Tuhan,robot-robot itu hidup tenang tanpa rasa.Adapun kemiskinanyang diderita,mereka anggap sebagai takdir dengan alasan Imbas keglobalan.
Robot-robot itu dipekerjakan untuk membuat gedung-gedung peradaban dan segala aksesorisnya.mereka tentu saja patuh karena mereka robotSebagian dari mereka ada yang menyadari kerobotannya dan menikmatinya,tetapi pada umumnya tidak.Mereka hanya sedang melakukan perannyamasing-masingdengan aman.asal mereka tetap hidup dan berkembang biak,itu sudah cukup.Sementara itu,bila ada robot-robot yang berangsur pulih menjadi manusia,para Tuhan itu dengan mudah memusnahkannya tanpa mengotori tangan.Hanya dengan menekan remot sensitivitas,robot-robot tersebut akan saling memusnahkan.
Begitulah,saya berimajinasi atau bahkan berfantasi tentang betapa penduduk negeri ini tak merdeka.Segala hal yang dikonsumsi oleh anak negeri telah diberi ruh global dari sandang,pangan,papan,sampai tontonan.Dan,ruh itulah software bagi program kehidupan kita.Ruh itulah,chip yang ditanam disetiap tubuh yang telah menjadi robot itu.
Sungguh,saya terlalu terhenyak saat merefleksikan hal ini pada diri saya sendiri.Adakah chip yang tertanam pada tubuh ini?Sejauh mana jiwa ini terkendalikan?Robotkah eksistensi kemanusiaan saya?Dan,sekian pertanyaan lain seakan lebah yang mengerubuti kepala dan ikut kemanapun saya lari dan bersenmbunyi.

Ajalku telah tiba???

Assalamualaikum Wr.Wb.

Semoga ini bermanfa'at ....

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. Kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita ?

"KISAH YANG MUNGKIN NYATA"

Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba dirumah langsung duduk bersantai sambil melepas penat. sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan langsung sholat sementara anak2 & istri sedang berkumpul diruang tengah. Dalam kelelahan tadi, saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat dimuka saya. selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri didepanku. Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba2 itu.

Sebelum sempat bertanya.....siapa dia...tiba2 saya merasa dada saya sesak... sulit untuk bernafas.... namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara..sebisanya...... Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku......terus berjalan......kekerongkonganku.... sakittttttttt........sakit........rasanya.keluar airmataku menahan rasa sakitnya,.... oh tuhan ada apa dengan diriku.....

Dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku...kkhh.........khhhh..... kerongkonganku berbunyi. seolah tak mampu menahan benda tadi... badanku gemetar... peluh keringat mengucur deras....mataku terbelalak..... air mataku seolah tak berhenti.... tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku.

Aku melihat benda tadi dibawa oleh orang misterius itu...pergi...berlalu begitu saja....hilang dari pandangan. Namun setelah itu.........aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat, segar, cerah... tidak seperti biasanya. Aku herann... istri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah..... tiba2 terkejut berhamburan kearahku.. Disitu aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat dibawah sofa yang kududuki tadi . badannya dingin kulitnya membiru. siapa dia????????........ mengapa anak2 & istriku memeluknya sambil menangis... mereka menjerit...histeris ...terlebih istriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi... siapa dia........???????? Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan..... dia........dia.......dia mirip dengan aku....ada apa ini Tuhan...????????

Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu… Aku mencoba merangkul anak2 ku tapi tak bisa ...Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku coba jelaskan kalau aku ada disini.. Aku mulai berteriak.....tapi mereka seolah tak mendengarkan aku.........seolah mereka tak melihatku... Dan mereka terus-menerus menangis....aku sadar..aku sadar...bahwa orang misterius tadi telah membawa roh ku.. Aku telah mati...aku telah mati.

Aku telah meninggalkan mereka ..tak kuasa aku menangis ......berteriak......aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku Aku sangat sedih.. selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang bisa kulakukan untuk membimbing mereka. Tapi waktuku telah habis.......masaku telah terlewati........aku sudah tutup usia ....pada saat aku terduduk disofa setelah lelah seharian bekerja. Sungguh bila aku tau aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja, beribadah, untuk keluarga dll. Aku menyesal aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum sholat. Ohh Tuhan, Jika kau ijinkan keadaanku masih hidup masih bisa membaca E-mail ini. sungguh aku amat sangat bahagia. Karena aku masih mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berjanji bila maut menjemputku kelak. aku telah berada pada keadaan yang siap.